Minggu, 06 Oktober 2013

Pemikiran Politik Islam : Kajian Strategis Hasan Al Banna


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam dunia Islam, kita mengenal ada sebuah ranah berekspresi bagi umat manusia dalam berinteraksi dengan makhluk Tuhan yang lainnya. Ranah ini acapkali disebut dengan nama politik, atau dalam bahasa arab sering disebut dengan nama siyasah. Pandangan atas politik tersebut bersifat multi tafsir, tergantung dari siapa yang menilainya dan objek apa yang tengah digelutinya. Bangsa barat seringkali menyebut politik sebagai suatu seni atau cara dalam mencapai kekuasaan. Bahkan ada pula yang menyebut politik sebagai suatu Konsep yang mengacu kepada sekelompok manusia yang terorganisasi secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap pemerintahan bagi pimpinan partainya dan berdasarkan penguasaan ini memberikan kemanfaatan bagi anggotanya, baik yang bersifat idiil maupun material.[1]Namun bagi dunia Islam, politik bias digunakan sebagai suatu cara untuk mengatur ummah atau umat. Namun dari pemikir Islam itu sendiri, politik memiliki banyak pengertian yang seluruhnya mengenai bagaimana cara mengatur umat. Seperti yang disampaikan oleh Ar- Raghib Al-Ashfihani, penulis kitab  Mufradat Al- Qur’an” menyatakan bahwa politik ada dua macam. Pertama, politik manusia untuk manusia itu sendiri, baik menyangkut kebutuhan raganya atau kebutuhan lainnya. Kedua, politik manusia terhadap pihak lain, baik kepada kerabatnya ataupun kepada masyarakat secara umum.[2] Sehingga dapat disimpulkan bahwa politik merupakan kemampuan dalam mengorganisir ataupun mengatur pola interaksi social dalam masyarakat, termasuk mengatur hajat hidup masyarakat secara keseluruhan. Itulah mengapa salah satu cara yang paling ampuh dalam mengelola masyarakat ialah melalui politik dan manakala manusia yang dipercaya dalam mengatur kebijakan bermasyarakat dipilih melalui mekanisme politik, baik secara voting maupun secara musyawarah untuk mufakat. Itulah mengapa banyak sekali pemikir- pemikir ilmu politik yang kerap bersiteru dalam meluncurkan teori- teori politik, termasuk politik dalam perspektif Islam yang akan kita bahas pada makalah ini. Salah satu pemikir yang menurut penulis cukup menarik untuk dibahas ialah pandangan Hasan Al- Banna dalam teoritisasi political Islamic.
Hasan Al- Banna juga sering disebut- sebut sebagai pemicu lahirnya gerakan kontroversial di tanah para nabi –Mesir- saat ini. Gerakan yang biasanya disebut sebagai gerakan Ikhwan, atau yang dikenal dengan nama Ikhwanul Muslimin adalah gerakan politis yang lahir atas keprihatinan Hasan Al- Banna atas kondisi Mesir yang berada pada degradasi politik dibawah kepemimpinan Mubarok selama 30 tahun. Sesungguhnya gerakan ini lahir jauh sebelum itu, namun mulai mencuat ke permukaan pada saat degradasi politik tersebut. Gerakan ini juga turut serta mengilhami lahirnya partai IM di Mesir, AKP di Turki dan PKS di Indonesia. Ikatan yang dibangun di 3 negara tersebut bukan berasal dari garis komando gerakan Ikhwanul Muslimin, namun karena ada kesamaan secara emosional dalam memandang Islam sebagai ranah jihad dan dakwah. Menurut Hasan Al-Banna, ada semacam kesamaan- kesamaan yang muncul antara golongan Ikhwanul Muslimin terhadap permasalahan politik. Para aktivis Ikhwanul Muslimin memiliki rasa persaudaraan dan semangat juang yang sama, khususnya dalam dinamika politik yang berawal dari masalah politik Mesir. Sesungguhnya, tak ada alasan yang mengharuskan bahwasanya Ikhwanul Muslimin mengurus hal seperti itu, namun mereka melihat bahwa kasus ini adalah salah satu bentuk perjuangan dakwah yang diwariskan Rasulullah kepada mereka.[3]Maka dari itu, bahasan atas Hasan Al- Banna akan penulis bahas tuntas dalam tulisan ini serta meneliti apakah ada kesamaan pola pemikiran antara Hasan Al- Banna dengan pioneer gerakan yang lain, seperti Soekarno dengan Pancasilanya, Adolf Hitler dengan Chauvinisme Germany atau Karl Marx dengan agenda sosialismenya.
1.2. Rumusan Masalah
Melihat ulasan yang telah penulis paparkan diatas, adapun rumusan masalah dalam makalah ini ialah:
a.       Mengenal Hasan Al- Banna.
b.      Pemikiran Politik Islam menurut Hasan Al- Banna.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Mengenal Hasan Al- Banna
Hasan al-Banna lahir di desa Mahmudiyah kawasan Buhairah, Mesir pada hari Ahad, tanggal 14 Oktober 1906 yang bertepatan dengan 25 Sya’bān 1324. Nama lengkap beliau, Hasan ibn Ahmad ibn ‘Abdurrahman al-Banna. Ia berasal dari keluarga pedesaan kelas menengah. Al-Banna merupakan pribadi berkharisma yang dikenal cerdas, shaleh, mulia, dan berpengaruh dalam bentangan sejarah, baik di dataran Arab khususnya, dunia Islam umumnya, termasuk dunia Barat.[4]
Ayahnya bernama Ahmad, putra bungsu kakeknya yang bernama Abdur Rahman, seorang petani. Ahmad dibesarkan dalam suasana yang jauh dari pertanian. Untuk memenuhi keinginan ibunya, ia masuk ke Pesantren Tahfidzul Qur’an di kampungnya kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Ibrahim Pasha di Iskandariyah. Di tengah masa studi, Ahmad juga bekerja di toko reparasi jam hingga menguasai yang terkait dengan jam. Dari profesi inilah kemudian ayahnya dikenal dengan as-Sā’ati (tukang reparasi jam). Selain itu, Ahmad juga menulis sebuah kitab berjudul al-Fath al-Rabbānī fī Tartīb Musnad al-Imām Ahmad bin Hanbal al-Syaibānī. Sedangkan ibunda dari Hasan al-Banna bernama Ummu Sa’d Ibrahim Saqr. Ibundanya adalah tipologi wanita yang cerdas, disiplin, cerdik dan kokoh pendirian. Apabila telah memutuskan sesuatu sulit bagi Ummu Sa’d untuk menarik mundur keputusannya. Ini senada dengan sebuah pepatah yang berbunyi, “Jika layar terkembang pantang biduk surut ke pantai.” Perhatiannya pada pendidikan membuatnya juga bertekad untuk menyekolahkan Hasan Al-Banna hingga ke pendidikan tinggi. Ummu Sa’ad memiliki delapan delapan orang anak, yang masing-masing adalah: Hasan al-Banna, Abdurrahman, Fatimah, Muhammad, Abdul Basith, Zainab, Ahmad Jamaluddin, dan Fauziyah.[5] Hasan al-Banna merupakan pendiri organisasi besar, Ikhwanul Muslimin. Gerakan ini dibentuk pada bulan Dzulqa’dah 1347 H/1928 di kota Ismailiyah. Gerakan ini tumbuh dengan pesat dan tersebar di berbagai kelompok masyarakat. Sebelum mendirikan Ikhwan, al-Banna juga ikut mendirikan sebuah jamaah sufi bernama Thariqah Hashafiyah dan Jamaah Syubban al-Muslimin. Metode gerakan yang diserukan oleh Ikhwan adalah bertumpu pada tarbiyah (pendidikan) secara bertahap. Tahapan tersebut adalah dengan membentuk pribadi muslim, keluarga muslim, masyarakat muslim, pemerintah muslim, Negara Islam, Khalifah Islam dan akhirnya menjadi Ustadziyatul ‘Alam (kepeloporan dunia).
Pribadi Hasan Al-Banna menarik banyak kalangan. Abu Hasan Ali an-Nadwi, memberikan kesaksian tentang Al-Banna: “Pribadi itu telah mengejutkan Mesir, dunia Arab dan dunia Islam dengan gegap gempita dakwah, kaderisasi, serta jihad dengan kekuatannya yang ajaib. Dalam pribadi itu, Allah Swt, telah memadukan antara potensi dan bakat yang sepintas tampak saling bertentangan di mata para psikolog, sejarawan, dan pengamat sosial. Di dalamnya terdapat pemikiran yang brilian, daya nalar yang terang menyala, perasaan yang bergelora, hati yang penuh limpahan berkah, jiwa yang dinamis nan cemerlang, dan lidah yang tajam lagi berkesan. Di situ ada kezuhudan dan kesahajaan, kesungguhan dan ketinggian cita dalam menyebarkan pemikiran dan dakwah, jiwa dinamis yang sarat dengan cita-cita, dan semangat yang senantiasa membara. Di situ juga ada pandangan yang jauh ke depan…”[6]

2.2. Pemikiran Politik Islam Menurut Hasan Al- Banna.
Mesir sebagai background perjuangan Hasan al-Banna merupakan wilayah yang syarat dengan tantangan dakwah Islam waktu itu. Dengan sarana perjuangan yang diwadahi Ikhwanul Muslimin –yang notabene organisasi yang didirikannya-, sangat konsen perhatiannya dalam pergerakan politik. Dimana salah satu sisi Tarbiyyah Ikhwanul muslimin yang penting adalah bidang politik. Politik disini, sebagaimana dijelaskan Yusuf al-Qaradhawi, merupakan bidang yang berhubungan dengan urusan hukum, sistem negara, hubungan pemerintah dan rakyat, hubungan antara satu negara dengan yang lainnya dari negara-negara Islam ataupun non Islam, hubungan negara dengan kolonial penjajah, dan hubungan-hubungan yang lainnya dari ketentuan-ketentuan yang sekian banyaknya.[7]
            Dalam eksistensinya, Mesir menurut Hasan Al- Banna mengalami pembodohan dalam berorganisasi. Hal ini terletak pada klasifikasi organisasi politik dan organisasi agama. Ada dikotomi/ pemisahan antara agama dan politik dalam organisasi- organisasi di Mesir. Maka terjadi perbedaan konsep, dimana konsep politik bertolak belakang dengan konsep agama. Sehingga organisasi agama, tidak boleh mengurusi politik dan organisasi politik tidak dianjurkan untuk mengurusi agama. Hasan al-Banna menembus pemahaman adanya dikotomi agama dan politik tersebut untuk meniadakannya. Ia menganggap bahwa hal tersebut merupakan pemahaman yang didasari kebodohan dan hawa nafsu yang dilestarikan oleh kolonial peradaban. Maka menjadi keniscayaan dalam memerangi dan meniadakan pemikiran berbahaya tersebut dengan pemikiran yang benar, yakni kesempurnaan Islam untuk setiap bidang kehidupan, termasuk politik, sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur’an, hadits, petunjuk Rasul SAW., sejarah para sahabat, dan amalan umat sepanjang lebih dari 14 abad. Hasan al-Banna mempertegas, “jika kalian ditanya, kepada apa kalian akan menyeru? Maka jawablah: Kami akan menyeru kepada Islam yang dibawa oleh Muhammad SAW., dan pemerintahan merupakan bagian dari Islam, dan kemerdekaan adalah suatu keniscayaan dari keniscayaan-keniscayaannya.” Selanjutnya ia menjelaskan, “jika dikatakan kepada kalian: Ini adalah politik. Maka jawablah: Ini adalah Islam. Kami tidak mengenal pembagian-pembagian ini!.”[8]
Dalam pemikiran politiknya, setidaknya ada empat hal yang menjadi perhatian beliau dalam mengawal gerak perjuangannya. Keempat point pemikirannya menjadi sisi penting untuk memahami bagaimana ia menggerakan Ikhwanul Muslimin hingga menjadi organisasi Islam yang menjadi panutan dan rujukan pergerakan ormas Islam lain di beberapa penjuru dunia. Pertama, mengenai konsep Arabisme (‘Urūbah). Kedua, konsep patriotisme (Wathaniyyah). Ketiga, konsep nasionalisme (Qaumiyyah). Keempat, konsep internasionalisme (Ālamiyyah). Mari kita bahas satu persatu konsep tersebut:
a.       Arabisme
Arabisme memiliki tempat tersendiri dan peran yang berarti dalam dakwah Hasan al-Banna. Bangsa Arab adalah bangsa yang pertama kali menerima kedatangan Islam. Dia juga merupakan bahwa yang terpilih. Hal ini sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah Saw, “Jika bangsa Arab hina, maka hina pulalah Islam.” Arabisme menurut al-Banna adalah kesatuan bahasa. Ia berkata dalam Muktamar Kelima Ikhwan,“…Bahwa Ikhwanul Muslimin memaknai kata al-‘Urūbah (Arabisme) sebagaimana yang diperkenalkan Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dari Mu’adz bin Jabal ra, “Ingatlah, sesungguhnya Arab itu bahasa. Ingatlah, bahwa Arab itu bahasa.” Menurut Al-Banna, Arab adalah umat Islam yang pertama, yang merupakan bangsa pilihan. Islam, menurutnya, tidak pernah bangkit tanpa bersatunya bangsa Arab. Batas-batas geografis dan pemetaan politis tidak pernah mengoyak makna kesatuan Arab dan Islam. Islam juga tumbuh pertama kali di tanah Arab, kemudian berkembang ke berbagai bangsa melalui orang-orang Arab. Kitabnya datang dengan bahasa Arab yang jelas, dan berbagai bangsa pun bersatu dengan namanya.
Selaras dengan penjelasan tersebut, Abdul Hamid al-Ghazali, dalam bukunya Meretas Jalan Kebangkitan Islam, mengatakan bahwa dapat disimpulkan beberapa unsur dari pemikiran Al-Banna bahwa berbangga dengan Arabisme tidak termasuk fanatisme dan tidak berarti merendahkan pihak lain. Arabisme dengan tujuan untuk membangkitkan Islam demi tersebarnya Islam adalah dibolehkan.[9] Dalam hal ini, penulis mencoba untuk menelaah apakah Arabisme sama dengan Chauvivisme Adolf Hitler dalam mempertahankan paham mereka masing- masing. Ternyata, pilihan Arabisme bukanlah sebuah paham, tapi tujuan Hasan Al- Banna yang memilih arab sebagai lokasi dakwahnya guna mempersatukan seluruh negara dan bangsa Arab. Bukan dengan artian menjadikan Arab sebagai ideologi tersendiri dan dianggap paling benar, seperti yang dilakoni Hitler atas bangsa Arya di Jerman.
b.      Patriotisme
Dalam memaknai Wathaniyah (patriotisme), ada tiga arti yang dikemukakan oleh Hasan Al-Banna, yaitu: Pertama, Patriotisme Kerinduan (Cinta Tanah Air). Al-Banna berkata: “Jika yang dimaksud dengan patriotisme oleh para penyerunya adalah cinta negeri ini, keterikatan padanya, kerinduan padanya, dan ikatan emosional dengannya, maka hal itu sudah tertanam secara alami dalam fitrah manusia di satu sisi, dan dianjurkan Islam di sisi lainnya.” Kedua, Patriotisme Kemerdekaan dan Kehormatan (Kemerdekaan Negeri). Al-Banna berkata: “Jika yang mereka maksudkan dengan patriotisme adalah keharusan berjuang untuk membebaskan tanah air dari cengkeraman perampok imperialis, menyempurnakan kemerdekaannya, dan menanamkan kehormatan diri dan kebebasan dalam jiwa putra-putra bangsa, maka kami sepakat dengan mereka tentang itu.” Ketiga, Patriotisme Kebangsaan (Kesatuan Bangsa). Al-Banna berkata: “Jika yang mereka maksudkan dengan patriotisme adalah mempererat ikatan antara anggota masyarakat suatu Negara dan membimbingnya ke arah memberdayakan ikatan itu untuk kepentingan bersama, maka kami pun sepakat dengan mereka.”
Ketiga pandangan patriotisme tersebut nampaknya tidak jauh berbeda dengan ikatan luhur bangsa Indonesia dalam butir- butir Pancasila yang digali oleh Bung Karno. Sejarah mencatat bahwasanya Pancasila sangat dipengaruhi oleh daya dan cara piker Islam yang berasal dari Piagam Madinah. Penulis melihat ada kesamaan arti dan makna bagaimana Hasan Al- Banna menginterpretasikan pancasila dalam binkai Ikhwanul Muslimin dengan Pancasila sebagai kepatriotan bangsa Indonesia. Patriotisme juga memiliki prinsip lainnya di mata Hasan Al-Banna. Ia mengatakan:
“Suatu kekeliruan bagi orang-orang yang menyangka bahwa Ikhwanul Muslimin berputus asa terhadap kondisi negeri dan tanah airnya. Sesungguhnya kaum Muslimin adalah orang-orang yang paling ikhlas berkorban bagi negara, habis-habisan berkhidmat untuknya, dan menghormati siapa saja yang mau berjuang dengan ikhlas dalam membelanya. Dan anda tahu sampai batas mana mereka menegakkan prinsip patriotisme mereka, serta kemuliaan macam apa yang mereka inginkan bagi umatnya. Hanya saja, perbedaan prinsip antara kaum muslimin dengan kaum yang lainnya dari para penyeru patriotisme murni adalah bahwa asas patriotisme Islam adalah akidah Islamiyah…Adapun tentang patriotisme Ikhwanul Muslimin, cukuplah bahwa mereka menyakini dengan kukuh bahwa sikap acuh terhadap sejengkal tanah yang ditinggali seorang muslim yang terampas merupakan tindakan kriminal yang tidak terampuni, hingga dapat mengembalikannya atau hancur dalam mempertahankannya. Tidak ada keselamatan bagi mereka dari siksa Allah kecuali dengan itu.”[10]

c.       Nasionalisme
Dalam pandangan al-Banna, nasionasionalisme dipahami dalam 5 bentuk.[11] Pertama, nasionalisme kebanggaan, yaitu rasa bangga generasi penerus terhadap pendahulunya diiringi adanya tanggung jawab kewajiban untuk mengikuti jejak para pendahulu yang beriman kepada Allah sebagai Tuhan yang mesti disembah dan ditaati, Islam sebagai sistem hidup, Muhammad SAW. sebagai nabi dan rasul, lalu menyebarkan Islam sebagai akidah, syari’at dan pandangan hidup, menerapkan hukum dengan keadilan Islam, serta menyinari pola pikir manusia dengan keimanan.
Kedua, nasionalisme kebangsaan, yakni umat suatu bangsa mesti mengorbankan apa yang dimiliknya dari usahanya yang baik untuk menjadikan bangsa yang lebih baik. Nasionalisme ini selaras dengan apa yang ada di dalam Islam, dimana infak hendaknya memperhatikan kebutuhan orang terdekat dan selanjutnya. Allah berfirman, “Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya.”[12]
Ketiga, nasionalisme jahiliyyah yang berarti nasinalisme yang dianut oleh kaum jahiliyyah. Dimana para penyeru nasionalisme ini berupaya menghidupkan kembali semangat-semangat jahiliyyah yang telah dibumihanguskan oleh Islam, seperti semangat fanatisme kesukuan, sikap sombong, dan merasa lebih dari orang lain. Prinsip-prinsip nasionalisme seperti ini berusaha dihidukan kembali oleh partai-partai sekuler yang menuduh Islam terbelakang atau kuno, sehingga harus dikikis dari kehidupan. Oleh karena itu, Hasan al-Banna menyatakan bahwa nasionalisme seperti ini amat tercela dan berakibat buruk dan akan meruntuhkan nilai-nilai kemuliaan serta menghilangkan watak-watak terpuji.
Keempat, nasionalisme permusuhan, yaitu nasionalisme yang berlandaskan semangat merampas hak-hak orang lain tanpa alasan yang benar. Semangat seperti merupakan semangat jahiliyyah yang terus berkembang dari dulu sampai sekarang. Bahkan era jahiliyyah dulu ada sebuah sya’ir yang mengatakan, “Siapa yang tidak menganiaya orang lain, maka dia yang akan dianiaya.”[13]
Kelima, nasionalisme Islam, yakni nasionalisme yang berlandaskan aqidah, bukan darah, keluarga, kepentingan, dan wilayah geografis tertentu. Ia merupakan nasionalisme yang menghapuskan semangat-semangat jahiliyyah yang mengusung kesukuan dan fanatisme buta, nasionalisme yang menyerap dan menampung seluruh jenis manusia dari suku bangsa, warna kulit, dan negara manapun, tanpa membeda-bedakannya. Rasulullah SAW. bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menghapuskan arogansi jahiliyyah dan kebanggaan terhadap nenek moyang, karena manusia berasal dari Adam, dan Adam diciptakan dari tanah. Sehingga orang Arab tidak lebih baik dibanding orang A’jam (non Arab), kecuali dengan taqwa.”[14]
d.      Internasionalisme
Internasionalisme menurut Hasan al-Banna inheren dalam Islam, oleh karena Islam adalah agama yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia. “Adapun dakwah kita disebut internasional, karena ia ditujukan kepada seluruh umat manusia. Manusia pada dasarnya bersaudara; asal mereka satu, bapak mereka satu, dan nasab mereka pun satu. Tidak ada keutamaan selain karena takwa dan karena amal yang dipersembahkannya, meliputi kebaikan dan keutamaan yang dapat dirasakan semuanya,” demikian tulisnya.
Konsep internasionalisme merupakan lingkaran terakhir dari proyek politik al-Banna dalam program ishlāhul ummah (perbaikan umat). Dunia, tidak bisa tidak, bergerak mengarah ke sana. Persatuan antar bangsa, perhimpunan antar suku dan ras, bersatunya sesama pihak yang lemah untuk memperoleh kekuatan, dan bergabungnya mereka yang terpisah untuk mendapatkan hangatnya persatuan, semua itu merupakan pengantar menuju terwujudnya kepemimpinan prinsip internasionalisme untuk menggantikan pemikiran rasialisme dan kesukuan yang diyakini umat manusia sebelum ini. Dahulu memang harus meyakini ini untuk menghimpun unsur-unsur dasar, lalu harus dilepaskan kemudian untuk menggabungkan berbagai kelompok besar, setelah itu terwujudlah kesatuan total di akhirnya. Langkah ini, menurutnya memang lambat, namun itu harus terjadi.
Untuk mewujudkan konsep ini juga Islam telah menyodorkan sebuah penyelesaian yang jelas bagi masyarakat untuk keluar dari lingkaran masalah seperti ini. Langkah pertama kali yang dilakukan adalah dengan mengajak kepada kesatuan akidah, kemudian mewujudkan kesatuan amal. Hal ini sejalan dengan firman Allah SAW., “Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nabi Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Nabi Ibrahim, Musa dan Isa yaitu ‘Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.”[15]
Hasan Al- Banna sebagai seorang pemikir Islam memiliki peran yang sangat besar dalam proses meluruskan Islam sebagai agama yang Rahmatan Lil Alamin. Konsep dirinya yang menyangkut perbaikan individu, perbaikan keluarga, perbaikan masyarakat, perbaikan umat dan perbaikan Negara bertujuan untuk mengembalikan Islam sebagai sebuah peradaban yang harmonis seperti masa- masa keemasan Khoilafah Islamiyah. Metode gerakan yang diserukan oleh Ikhwan adalah bertumpu pada tarbiyah (pendidikan) secara bertahap. Tahapan tersebut adalah dengan membentuk pribadi muslim, keluarga muslim, masyarakat muslim, pemerintah muslim, Negara Islam, Khalifah Islam dan akhirnya menjadi Ustadziyatul ‘Alam (kepeloporan dunia). Tentunya, agenda Hasan Al Banna menjadi terhenti manakala dirinya meninggal dengan cara mengenaskan setelah ditembak secara brutal oleh beberapa orang yang tidak dikenal. Dua jam setelah dirinya ditembak, ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Namun paling tidak, hingga hari ini metode dakwahnya dicontoh oleh sebagian besar negara- negara didunia seperti Turki, Mesir dan juga Indonesia. Hasan Al Banna meninggalkan konsep- konsep dakwah nan brilian yang mencoba meluruskan dimana peran agama saat bertemu politik ataupun sebaliknya, karena menurutnya keduanya ialah dua sisi dalam satu keeping mata uang logam, tidak dapat dipisahkan.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Sikap pemikiran Hasan Al-Banna (ikhwanul Muslimin) terhadap pemerintahan, berkaitan erat dengan pemahaman akan esensi Islam dan Aqidahnya. Islam-sebagimana yang dipersepsikan Ikhwanul Muslimin-menjadikan pemerintahan sebagai salah satu pilarnya. Ikhwan memandang bahwa pemerintahan Islam memiliki kaidah-kaidah yang tercermin dalam ulasan Al-Banna – ketika membicarakan tentang problematika hukum di Mesir dan bagaimana memecahkannya-berupa karakteristik atau pilar-pilar pemerintahan Islam. Ia berpendapat bahwa pilar-pilar itu ada tiga, yaitu :
1.    Tanggung jawab pemerintah, dalam arti bahwa ia bertanggungjawab kepada Allah dan rakyatnya. Pemerintahan, tidak lain adalah praktek kontrak kerja antara rakyat dengan pemerintah, untuk memelihara kepentingan bersama.
2.      Kesatuan umat. Artinya, ia memiliki sistem yang satu, yaitu Islam. Dalam arti, ia harus melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan nasihat.
3.      Menghormati aspirasi rakyat. Artinya, di antara hak rakyat adalah mengawasi para penguasa dengan pengawasan yang seketat-ketatnya, selain memberi masukan tentang berbagai hal yang dipandang baik untuk mereka. Pemerintah harus mengajak mereka bermusyawarah, menghormati aspirasi mereka, dan memperhatikan hasil musyawarah mereka.[16]

DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Dadang Supardan. 2009. Pengantar Ilmu Sosial. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Yusuf Al- Qaradhawi. 2008. Meluruskan Dikotomi Agama dan Politik. Jakarta: Pustaka Al- Kautsar
Hasan Al-Banna. 2005. Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin (Terjemahan Jilid 2). Solo : Intermedia
Khozin Abu Faqih, dkk. 2006. Mengenal Perintis Kebangkitan Islam Abad 15 H. Solo: Auliya Press
Hasan Al-Banna. 2008. Majmū’ah al-Rasā’il al-Imām al-Syahīd Hasan al-Banna, terj. Anis Matta dkk, “Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin I.Solo: Era Intermedia
QS. Al-Baqarah [2]: 215
QS. Al-Syūrā [42]: 13
Jurnal :
Yusuf al-Qaradhawi. 1992. al-Tarbiyyah al-Islāmiyyah wa Madrasah Hasan al-Bannā, Kairo: Maktabah Wahbiyyah, dalam http://robimulya.blogspot.com/2009/12/politik-islam-dalam-kacamata-hasan-al.html, diunduh pada hari Senin, 16 September 2013, pukul 20.49 WIB
Abdul Hamid al-Ghazali, Haula Asāsiyyah al-Masyrū’ al-Islāmī li Nahdhah al-Ummah, terj. Wahid Ahmadi dan Jasiman. Solo: Era Intermedia http://robimulya.blogspot.com/2009/12/politik-islam-dalam-kacamata-hasan-al.html, diunduh pada hari Senin, 16 September 2013, pukul 21.41 WIB
Muhammad Abdul Qadir Abu Faris. Fikih Politik Menurut Imam Hasan al-Banna, dalam http://www.eramuslim.com/manhaj-dakwah/fikih-siyasi/pemahaman-politik-islam.htm diunduh pada hari Senin, 16 September 2013, pukul 22.36 WIB
Web:
http://robimulya.blogspot.com/2009/12/politik-islam-dalam-kacamata-hasan-al.html, diunduh pada hari Senin, 16 September 2013, pukul 20.17 WIB
http://jurnalpamel.wordpress.com/politik-islam/pemikiran-politik-hasan-al-banna/ diunduh pada hari Senin, 16 September 2013, pukul 22.41 WIB



[1] Dr. H. Dadang Supardan,M.Pd. Pengantar Ilmu Sosial. 2009. Jakarta : PT. Bumi Aksara. Hal. 571
[2] Yusuf Al- Qaradhawi. 2008. Meluruskan Dikotomi Agama dan Politik. Jakarta: Pustaka Al- Kautsar
[3] Hasan Al-Banna. 2005. Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin (Terjemahan Jilid 2). Solo : Intermedia
[4] Khozin Abu Faqih, dkk.2006. Mengenal Perintis Kebangkitan Islam Abad 15 H. Solo: Auliya Press
[5] http://robimulya.blogspot.com/2009/12/politik-islam-dalam-kacamata-hasan-al.html, diunduh pada hari Senin, 16 September 2013, pukul 20.17 WIB

[6] Hasan al-Banna. 2008. Majmū’ah al-Rasā’il al-Imām al-Syahīd Hasan al-Banna, terj. Anis Matta dkk, “Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin I.Solo: Era Intermedia, hal 21
[7] Yusuf al-Qaradhawi, al-Tarbiyyah al-Islāmiyyah wa Madrasah Hasan al-Bannā, (Kairo: Maktabah Wahbiyyah, 1992), hal. 51-52 dalam http://robimulya.blogspot.com/2009/12/politik-islam-dalam-kacamata-hasan-al.html, diunduh pada hari Senin, 16 September 2013, pukul 20.49 WIB

[8] Ibid
[9] Abdul Hamid al-Ghazali, Haula Asāsiyyah al-Masyrū’ al-Islāmī li Nahdhah al-Ummah, terj. Wahid Ahmadi dan Jasiman, (Solo: Era Intermedia), hal. 195, http://robimulya.blogspot.com/2009/12/politik-islam-dalam-kacamata-hasan-al.html, diunduh pada hari Senin, 16 September 2013, pukul 21.41 WIB


[10] Hasan al-Banna. 2008. Majmū’ah al-Rasā’il al-Imām al-Syahīd Hasan al-Banna, terj. Anis Matta dkk, “Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin. Solo: Era Intermedia

[11] Muhammad Abdul Qadir Abu Faris, Fikih Politik Menurut Imam Hasan al-Banna, dalam http://www.eramuslim.com/manhaj-dakwah/fikih-siyasi/pemahaman-politik-islam.htm diunduh pada hari Senin, 16 September 2013, pukul 22.36 WIB


[12] QS. Al-Baqarah [2]: 215
[13] ومن لا يَظلم الناس يُظلم
[14] إِنَّ اللهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ نخوةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَتَعَظُّمَهَا بِاْلآباَءِ، النَّاسُ ِلآدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ، لاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ إِلاَّ بِالتَّقْوَى.
[15] QS. Al-Syūrā [42]: 13
[16] http://jurnalpamel.wordpress.com/politik-islam/pemikiran-politik-hasan-al-banna/ diunduh pada hari Senin, 16 September 2013, pukul 22.41 WIB

2 komentar: